
Lebih bahaya rokok atau vape masih menjadi perdebatan hangat di masyarakat, terutama di tengah maraknya anggapan bahwa vape merupakan alternatif “lebih aman” bagi perokok. Namun, di balik uap dan aroma manisnya, vape tetap menyimpan potensi bahaya yang tak boleh disepelekan. Pemahaman yang benar mengenai kandungan dan dampaknya sangat penting agar Anda bisa membuat keputusan yang lebih sehat bagi diri sendiri maupun orang di sekitar.Pertanyaan tentang lebih bahaya rokok atau vape muncul karena keduanya sering dianggap memiliki risiko serupa. Padahal, cara kerja, bahan, dan efek jangka panjangnya sangat berbeda. Untuk memahami mana yang lebih berbahaya, mari kita telusuri fakta medis di balik kedua produk ini.
Fakta Tentang Lebih Bahaya Rokok atau Vape
Berbicara tentang lebih bahaya rokok atau vape, sebenarnya, kedua produk ini sama-sama berisiko bagi kesehatan dan masih terus diteliti bahayanya. Berikut penjelasannya:
1. Perbandingan kandungan rokok dan vape
Salah satu alasan utama munculnya perdebatan soal lebih bahaya rokok atau vape adalah perbedaan kandungan kimia yang dihasilkan keduanya. Rokok konvensional mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, sedangkan vape mengandung cairan kimia (liquid) yang tetap menghasilkan senyawa toksik saat dipanaskan.
- Rokok konvensional: Mengandung nikotin, tar, karbon monoksida, formaldehida, benzena, dan logam berat seperti arsenik dan timbal. Kombinasi zat ini terbukti menyebabkan kanker paru, penyakit jantung, dan gangguan sistem pernapasan.
- Vape: Mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, dan zat perasa. Ketika dipanaskan, cairan ini menghasilkan formaldehida, asetaldehida, dan partikel logam berat seperti nikel serta kromium. Meskipun tidak menghasilkan tar, efek jangka panjang dari senyawa ini tetap berpotensi merusak paru-paru dan pembuluh darah.
Studi juga menunjukkan bahwa beberapa produk vape mengandung zat tambahan yang dapat berubah menjadi senyawa toksik pada suhu tinggi, termasuk bahan penyebab cedera paru seperti vitamin E asetat.
2. Asap rokok vs uap vape sama-sama berbahaya
Banyak orang beranggapan bahwa karena vape menghasilkan “uap”, bukan asap, maka bahayanya lebih rendah. Faktanya, perbedaan bentuk ini tidak mengurangi risikonya secara signifikan.
- Asap rokok: Dihasilkan dari pembakaran tembakau, mengandung tar dan karbon monoksida yang bersifat karsinogenik. Asap ini juga menyebabkan pencemaran udara di ruang tertutup dan menempel pada permukaan benda (third-hand smoke).
- Uap vape: Mengandung nikotin dan senyawa kimia lain dalam bentuk partikel mikroskopis yang dapat masuk ke paru-paru. Walaupun lebih cepat hilang dibanding asap rokok, paparan jangka panjang tetap berpotensi memicu iritasi dan peradangan saluran napas.
Menurut penelitian, uap vape juga bisa memengaruhi fungsi endotel pembuluh darah, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung layaknya asap rokok.
3. Penyakit yang dapat timbul dari rokok dan vape
Baik rokok maupun vape sama-sama dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ vital tubuh. Perbedaannya hanya terletak pada seberapa cepat efek tersebut muncul.Akibat rokok konvensional:
- Kanker paru, mulut, tenggorokan, dan kandung kemih
- Penyakit jantung koroner dan stroke
- Gangguan kehamilan, termasuk kelahiran prematur
Akibat penggunaan vape:
- Kecanduan nikotin pada remaja dan dewasa muda
- Cedera paru akut seperti EVALI (e-cigarette or vaping-associated lung injury)
- Gangguan sistem kardiovaskular
- Potensi gangguan perkembangan otak pada remaja akibat paparan nikotin
- Risiko kerusakan paru jangka panjang yang masih dalam tahap penelitian
Efek vape mungkin tampak “lebih ringan” pada awalnya, tetapi belum ada bukti kuat bahwa penggunaannya aman dalam jangka panjang. Bahkan, banyak dokter paru menyebut vape sebagai “bom waktu kesehatan” karena dampaknya bisa muncul bertahun-tahun kemudian.
4. Bahaya paparan pasif dari rokok dan vape
Paparan asap atau uap secara tidak langsung juga dapat membahayakan orang di sekitar Anda. Perokok pasif terpapar lebih dari 4.000 zat berbahaya dari asap rokok, termasuk bahan penyebab kanker. Anak-anak yang terpapar berisiko mengalami asma, infeksi telinga, pneumonia, bahkan sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS).Sementara itu, uap vape pasif mengandung partikel logam berat, nikotin, dan zat kimia lain yang dapat menyebabkan iritasi saluran napas dan memperburuk alergi atau asma. Risiko ini lebih tinggi pada ibu hamil, bayi, dan lansia dengan gangguan paru.
5. Ketergantungan Nikotin dan Dampaknya pada Otak
Baik rokok maupun vape mengandung nikotin, zat adiktif yang menstimulasi otak untuk melepaskan dopamin, menciptakan rasa senang sementara. Namun, semakin sering digunakan, tubuh akan memerlukan dosis nikotin yang lebih tinggi untuk merasakan efek yang sama. Akibatnya, pengguna dapat mengalami kecanduan.Khusus pada remaja, nikotin bisa mengganggu perkembangan otak yang masih berlangsung hingga usia 25 tahun. Dampaknya dapat berupa gangguan konsentrasi, kecemasan, serta perubahan perilaku impulsif.
Lebih Bahaya Rokok atau Vape? Ini Kesimpulannya
Jadi, lebih bahaya rokok atau vape? Jawabannya: keduanya sama-sama berbahaya. Rokok memiliki bukti kuat sebagai penyebab berbagai penyakit kronis dan kanker, sementara vape masih tergolong baru namun sudah menunjukkan efek negatif yang nyata. Menganggap vape “lebih aman” hanyalah kesalahpahaman yang berisiko membuat generasi muda terjebak kecanduan nikotin dalam bentuk berbeda.Langkah terbaik untuk menjaga kesehatan adalah menghentikan penggunaan keduanya. Tubuh akan mulai memperbaiki dirinya dalam hitungan jam setelah berhenti, dan risiko penyakit akan berkurang secara bertahap.
Langkah Bijak untuk Berhenti dari Rokok atau Vape
Menghentikan kebiasaan merokok atau vaping memang tidak mudah, terutama bagi mereka yang sudah lama bergantung pada nikotin. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu proses berhenti lebih efektif:
- Tetapkan motivasi pribadi, misalnya ingin hidup lebih sehat, menghemat uang, atau melindungi keluarga.
- Hindari pemicu kebiasaan seperti kopi atau lingkungan yang penuh perokok.
- Gunakan terapi pengganti nikotin (permen, patch, atau inhaler) sesuai anjuran dokter.
- Lakukan aktivitas pengalih perhatian, seperti olahraga atau meditasi.
- Konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan dukungan medis dan terapi perilaku.
Baik rokok maupun vape, keduanya membawa risiko serius bagi tubuh. Memahami lebih bahaya rokok atau vape bukan sekadar soal memilih mana yang “lebih ringan,” tetapi tentang menyadari bahwa keduanya dapat merusak kesehatan dalam jangka panjang. Lindungi diri Anda dan keluarga dengan berhenti sejak sekarang. Jika Anda masih bingung atau kesulitan menghentikan kebiasaan merokok maupun vaping, jangan ragu untuk Chat Bersama Dokter di Alodokter. Dokter dapat membantu Anda memahami cara berhenti yang paling aman, merekomendasikan terapi nikotin yang sesuai, serta memantau perkembangan kesehatan paru dan jantung Anda.






